Mengembangkan Disiplin Positif di Kelas

Disiplin positif adalah cara mendidik yang bertujuan untuk menumbuhkan disiplin tanpa menggunakan hukuman atau hadiah. Disiplin positif bertujuan untuk: Membentuk karakter yang baik, Meningkatkan rasa percaya diri, Mengembangkan hubungan yang sehat dan saling menghormati, Menumbuhkan kesadaran dan memberdayakan anak untuk mandiri. Perilaku murid yang sering melanggar tata tertib di sekolah menjadi permasalahan utama bagi guru. Guru sering mengalami kesulitan dalam mendisiplinkan siswa, bahkan sering mengalami dilema dalam hal menerapkan cara terbaik dalam mendisiplinkan mereka. Permasalahan dalam hal karakter anak didik ini harus diatasi tentu dengan pendekatan humanistik, pendekatan karakter berbasis kesepakatan. Kesepakatan disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan siswa.


Seringkali pada saat masuk kelas guru masih banyak yang  mengeluh tentang kondisi kelasnya, tentang cara siswa memberikan respon pada saat pembelajaran, kedisiplinan dan antusiasme mereka. Apakah segala permasalahan yang terjadi pada siswa adalah karena kesalahan dan kurangnya pemahaman mereka tentang bagaimana menjadi pelajar ideal..?. Pernahkah guru melihat dan mengevaluasi tentang serangkaian proses pembelajaran yang diberikan sehingga kita layak menuntut atau seolah menyalahkan siswa..? Berikut ini kami berikan ulasan tentang bagiaman memberikan pemahaman baru, bagaimana guru membangun kepercayaan dan rasa puas dalam pembelajaran melalui kesepakatan kelas.

Guru wajib memfasilitasi tebentuk nya kesepakatan kelas yang  berisi tentang beberapa aturan gun tercapainya kegiatan belajar mengajar yang efektif dan bermakna. Kesepakatan kelas berisi harapan guru terhadap siswa dan harapan siswa dalam mengikuti pembelajaran.  Kesepakatan  kelas disusun dan dikembangkan bersama-sama antara guru dan siswa melalui proses diskusi dan musyawarah untuk mencapai kemufakatan. Kesepakatan yang disusun tidak perlu terlalu banyak agar siswa mudah mengingat dan fokus terhadap apa yang harus dilakukan. Idealnya cukup menyusun 4 – 8 aturan untuk setiap kesepakatan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru saat  memfasilitasi siswa membuat kesepakatan kelas diantanranya dengan menggunakan bahasa positif yang mudah dipahami dan dapat langsung dilakukan. Kesepakatan dapat diperbaiki dan dikembangkan secara berkala, sesuai perkembangan situasi dan kondisi seperti setiap awal semester. Kesepakatan yang sudah dibuat wajib  ditulis, digambar, atau disusun sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh siswa.

Cara guru memfasilitasi siswa dalam penyusunan kesepakatan kelas diantarnya:

  1. Guru memberikan pemahaman tentang disiplin positif kepada siswa bahwasanya untuk mencapai kelas yang ideal dan kondusif perlu kolaborasi dari seluruh pihak di kelas.
  2. Guru meminta siswa menyampaikan ide tentang nilai-nilai yang akan disepakati. Hal ini bisa dilakukan secara lisan atau tulisan.
  3. Guru memilah dan mengeliminasi ide yang mirip atau serupa, melakukan penyederhanaan bahasa agar mudah dipahami dan tepat sasasaran.
  4. Guru menuliskan ide-ide yang terpilih. Jika ternyata melebihi dari 8 aturan maka guru dan siswa bersekatan untuk memilih sesuai prioritas bersama.
  5. Setelah disepakati bersama, kesepakatan kelas ditulis oleh masing-masing siswa di buku mereka sebagai pengingat.
  6. Guru membuat poster kesekatan kelas yang selanjutnya dipasang di kelas dan ditanda tangani oleh seluruh siswa.
  7. Guru bisa memancing siswa dengan pertanyaan semisal, “Bagaimana kelas impian yang kalian harapkan dari pembelajaran mapel PAI dengan Bu Guru?”
  8. Guru memberikan keleluasaan kepada siswa dalam menyampaikan harapan mereka dan konsekuensi apa yang akan mereka lakukan jika melanggar kesepakatan tersebut. 

Yang harus diingat bahwa kesepakatan kelas dibuat bukan untuk melegalkan hukuman kepada siswa, namun bagaimana agar siswa memahami konsekuensi atas apa yang telah mereka sepakati sehingga siswa memiliki rasa kepercayaan terhadap guru dan juga kelasnya. Selain itu hendaknya guru mempertimbangkan kemampuan dan kondisi seluruh siswa agar kesepakatan tersebut nantinya tidak membebani satu atau beberapa siswa. Jangan lupa untuk memberikan ruang komunikasi bagi siswa yang merasa keberatan atau terkendala saat melaksanakan kesepakatan yang berlaku sehingga tidak ada pihak yang merasa terpaksa atas kesepakatan yang dibuat.

wien’s_Lampung


Eksplorasi konten lain dari Pokjawas PAI Nasional

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Ruang Komentar

Eksplorasi konten lain dari Pokjawas PAI Nasional

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca